Kalimantaninvestigasi.com – Suasana di perkampungan Jl Pertama RT 6 Desa Bincau Muara, Martapura Kota Selasa pagi, 6 Januari 2026 pukul 08.00 Wita itu tampak masih tenang. Seluruh penduduk melakukan aktifitas seperti biasa, meski terganggu oleh kondisi banjir yang terjadi sebulan terakhir di lingkungan Komplek Pondok Asas Residence yang berada di ujung Jalan Permata. Namun beberapa jam kemudian ketenangan itu berubah menjadi suasana yang sangat mencekam. Dua warga setempat terlibat perkelahian dengan senjata tajam hingga salah seorang di antaranya tewas bersimbah darah dengan dada yang tertusuk samurai panjang.
Alani (61 tahun) adalah seorang warga setempat yang cukup pendiam. Dia tinggal hanya sendiri, tanpa istri dan anak. Kesehariannya hanya sebagai pencari ikan di sekitar lingkungan tempat dia tinggal. Sebagian warga menyebutnya Paman Lani, sedangkan anak-anak setempat menyebut dia Kai (Kakek) Lani.
Paman Lani juga dikenal sosok yang sangat pemurah. Meski pekerjaan hanya sebagai pencari ikan, namun ikan-ikan tersebut dijual hanya sekedar untuk makan, sebagian lainnya terkadang diberikan cuma-cuma kepada penduduk setempat. Hasil menjual ikan itu pun kadang juga diberikan kepada anak-anak kecil di kampung tersebut, karena dia sangat menyukai anak-anak. Tidak sedikit anak-anak di kampung itu mendapat uang jajang dari Paman Lani.
Pagi menjelang siang di hari itu, tepatnya sekitar pukul 09.00, Paman Lani duduk di sebuah warung kecil di ujung jalan Permata, tepatnya pertigaan arah menuju pintu Komplek Pondok Asas Residence. Tidak lama duduk di warung itu, muncul seorang sopir yang kebetulan tinggal di lingkungan yang sama bernama Samhudi. Kebetulan di pertigaan itu cukup banyak sepeda motor parkir berderet di pinggir jalan. Sepeda motor-sepeda motor itu milik warga lainnya yang mengalami kebanjiran, sehingga tidak bisa membawa kendaraan ke teras rumah masing-masing, dan hanya bisa parkir di pinggir jalan.
Melihat posisi sepeda motor yang parkir berderet, Samhudi yang ingin mengeluarkan truk dari jalur itu tampak sedikit emosi melihat kendaraan yang parkir berderet. Kabar yang berkembang di tengah masyarakat, Samhudi sempat mengucapkan, “siapa yang naruh sepeda motor ini sembarangan,” ucap Samhudi.
Saat mengucapkan hal itu, kebetulan Paman Lain duduk di warung mendengar ucapan Samhudi, kemudian dia menyahut, “harap dimaklumi aja, kayapa pang urang kebanjiran,” sahut Paman Lain.
Berawal dari ucapan yang bersahutan itu, Samhudi terlibat adu mulut dengan Paman Lani di warung kecil tersebut. Entah seperti apa percakapan yang terjadi, situasi mulai memanas. Keduanya terlibat cekcok mulut, hingga terjadi kontak fisik. Singkat cerita, Samhudi pulang ke rumah yang tidak jauh dari lokasi, kemudian mendatangi Paman Lani sambil menghunus senjata tajam berupa sebilah samurai.
Keduanya terlibat perkelahian, warga yang sudah cukup banyak di lokasi banyak yang berteriak. Ibu-ibu, anak-anak, teriak saling bersahutan menyebutkan adanya perkelahian antara Paman Lani dan Samhudi. “Kai Lani berkelahi, Kai Lani berkelahi……,” teriak yang datang bersahutan. Suasana yang semula tenang di lingkungan itu mendadak mencekam.
Sejumlah warga yang kebetulan menyaksikan kejadian itu, berusaha untuk melerai. Ada yang berusaha merebut sentaja tajam yang dipegang Samhudi, sebagian lainnya berusaha memeluk Paman Lani untuk memisahkan dari perkelahian itu.
Namun usaha pertama yang dilakukan warga untuk mencegah perkelahian itu tidak berhasil. Samhudi sempat menebaskan samurai ke bagian paha kiri Paman Lani. Paman Lani roboh dengan luka robek di bagian paha. Tidak sampai di situ, tatkala Paman Lani roboh, Samhudi sempat menusukkan ujung samurai tepat mengenai jantung Paman Lain.
Warga kembali berusaha melerai, dan kali ini berhasil melerai keduanya. Samurai sudah terlepas dari tangan Samhudi, namun Paman Lain roboh tak berdaya. Berikutnya, warga mengangkat tubuh Paman Lain ke jalan, sebab lokasi perkelahian di tepi jalan itu tampak becek. Sementara itu, Samhudi langsung duduk terkulai, diam seribu bahasa.
Kejadian itu telah diketahui sanak keluarga Paman Lani. Oleh keluarganya, Paman Lani langsung dilarikan ke RS Ratu Zalekha untuk mendapatkan pertolongan. Namun luka yang dialaminya terlalu parah, sehingga tatkala tiba di UGD Ratu Zalekha, Paman Lani menghembuskan nafas yang terakhir.
Samhudi yang tadinya terduduk lunglai, sepertinya sudah pasrah. Hanya dalam hitungan menit, jajaran Polres Banjar tiba di lokasi, kemudian langsung mengamankan Samhudi untuk dibawa ke Mapolres Banjar.
Kapolsek Martapura Kota, Zulkifli yang kebetulan berada di RS Ratu Zalekha saat ditemui koranbanjar.com, membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia juga menyebutkan, bahwa pelaku sudah diamankan pihak kepolisian.
“Saya hanya bisa menyampakan, saat ini kami sedang mengumpulkan data-data, pelaku sudah diamankan, korban juga sudah diketahui dalam keadaan meninggal dunia. Berikutnya merupakan wewenang Mapolres Banjar untuk memberikan keterangan, semisal nanti melalui jumpa pers,” tutupnya. (dsn)


