Kalimantaninvestigasi.com – Korban meninggal dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Bara, mencapai 1.1.80 orang. Jumlah itu berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Berdasarkan data terbaru BNPB per Minggu (11/1/2026) pagi, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana Sumatera mencapai 1.180 orang. Selain itu, 145 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian. Hingga kini, sekitar 238.000 jiwa masih mengungsi akibat kerusakan tempat tinggal dan ancaman bencana susulan.
BNPB mencatat bencana tersebut telah merusak 175.126 rumah warga yang tersebar di 53 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 53.432 rumah rusak berat, 45.106 rumah rusak sedang, dan 76.588 rumah rusak ringan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman warga, tetapi juga menyasar fasilitas publik vital. BNPB melaporkan 215 fasilitas kesehatan, 3.188 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 776 jembatan, serta 2.056 ruas jalan mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan distribusi logistik di wilayah terdampak.
Dari ketiga provinsi terdampak, Aceh mencatatkan jumlah korban jiwa paling tinggi, yakni 544 orang meninggal dunia, sementara 31 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Selanjutnya, Sumatera Utara melaporkan 372 korban meninggal dan 42 orang masih hilang. Adapun Sumatera Barat mencatat 264 korban meninggal dunia dengan 72 orang belum ditemukan.
Jika dirinci berdasarkan kabupaten/kota, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa tertinggi, yakni 230 orang. Disusul Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan 194 korban meninggal, serta Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang mencatat 129 korban tewas.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan upaya penanganan darurat, pencarian korban hilang di Aceh, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi.
TNI Jalan Kaki Antar Logistik
Tentara Nasional Indonesia (TNI) memastikan seluruh bantuan logistik bagi warga terdampak bencana di Sumatera tersalurkan hingga ke pelosok wilayah, meski harus menghadapi medan yang ekstrem dan akses terbatas.
Berdasarkan keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) di Jakarta, Sabtu (10/1/2026), prajurit TNI dari Yonif 122/Tombak Sakti bahkan berjalan kaki menuju Desa Nauli 2, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Hal itu dilakukan demi memastikan bantuan logistik tiba langsung di tangan warga.
Pada Jumat (9/1/2026), sejumlah prajurit terlihat memanggul dus-dus berisi bantuan sambil menyusuri jalan tanah yang dikelilingi pepohonan dan vegetasi lebat. Akses menuju desa tersebut belum dapat dilalui kendaraan sehingga pengiriman hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Sejumlah warga, termasuk anak-anak, tampak mengikuti iring-iringan prajurit dari belakang.
Selain di Sumatera Utara, distribusi bantuan juga dilakukan di wilayah Aceh. Pada pekan ini, TNI mengirimkan perlengkapan ibadah berupa mukena, sajadah, baju koko, serta bantuan sandang, seperti handuk dan kaos dengan total berat mencapai 150 kilogram ke Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.
Tak hanya itu, bantuan sembako seberat 300 kilogram dan beras sebanyak 1.200 kilogram juga disalurkan ke Kabupaten Gayo Lues, Aceh, melalui Bandara Blangkejeren. Seluruh logistik tersebut diangkut menggunakan pesawat udara dan helikopter TNI Angkatan Laut pada Selasa (6/1/2026).
Melalui distribusi logistik ini, pemerintah bersama TNI dan kementerian serta lembaga terkait berupaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana tetap terpenuhi, meskipun kondisi medan dan akses di lapangan masih sangat menantang.(beritasatu.com)
