Kalimantaninvestigasi.com – Musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan lambat laun menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang mendatangkan kecemasan, kekhawatiran serta kesedihan. Rumah yang terendam, perabot rumah tangga yang mengapung di dalam rumah, hingga fasilitas umum yang hancur berantakan, mulai jalan sampai jembatan.
Sepekan sebelum menjelang akhir tahun 2025 hingga memasuki tahun 2026, sejumlah wilayah, terutama di pinggiran Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, kerap diguyur hujan. Air dari Sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit terus pasang. Rumah-rumah penduduk di sepanjang Desa Pengaron hingga ke hilir lebih awal mengalami banjir.
Air merembes terus ke permukiman warga yang berada di pinggiran Martapura Kota, antara lain, seperti di wilayah Desa Mali-mali, Kecamatan Karang Intan, Desa Bincau, Desa Tunggul Irang, Desa Murung Pelabuhan, Desa Tanjung Rema dan Desa Kampung Jawa, Kecamatan Martapura Kota.
Wilayah di bagian hilir sungai juga tidak luput dari pasangnya air dari Sungai Riam Kiwa. Seperti Desa Pakauman, Desa Teluk Selong, Desa Dalam Pagar, Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura Timur, kemudian Desa Sungai Rangas, Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat hingga memasuki Desa Sungai Tabuk.
Sebagian besar warga yang bermukim di pinggiran Sungai Riam Kiwa, terpaksa harus mengevakuasi sanak keluarga mereka, berpindah ke rumah-rumah keluarga dan kerabat terdekat yang bermukim di tempat lebih tinggi. Bukan hanya anggota keluarga, sebagian besar harta benda yang berharga terpaksa juga harus mereka angkut untuk dievakuasi ke tempat lebih aman.

Penduduk yang turut merasakan dampak banjir tahunan ini, antara lain, warga Komplek Pondok Asas Desa Bincau Muara, Kecamatan Martapura Kota. Air memasuki rumah-rumah mereka hingga mencapai 1,5 meter. Tidak ada pilihan kecuali harus berpindah tempat untuk sementara waktu. Ada yang mengevakuasi perabot rumah tangga dengan menggunakan truk, mobil pikap hingga gerobak.
“Harus bagaimana lagi, kami terpaksa pindah pak. Kalau bertahan di rumah ya jelas tidak bisa, tidur tidak bisa, kasur terendam,” demikian diutarakan Iril, salah satu warga setempat kepada reporter Kalimantaninvestigasi.com.
Diakui, tidak semua perabot rumah tangga yang diangkut, sebagian lainnya dibiarkan di dalam rumah, namun diangkat ke tempat yang lebih tinggi dengan menggunakan apar-apar (papan yang disusun tinggi) atau batako yang disusun lebih tinggi.
“Kalau keluarga, semua sudah pindah ke rumah keluarga yang lain. Jadi saya saja yang bertahan di rumah, sambil menjaga rumah,” ungkapnya dengan nada lirih.
Kondisi memilukan juga dialami penduduk-penduduk yang bermukim di desa lainnya. Seperti di Desa Mandikapau Barat, meski sebagian rumah penduduk tidak terendam, namun salah satu jembatan penghubung antar desa di Danau Tamiyang putus akibat diterjang banjir.
Musibah banjir yang terus terjadi setiap tahun di Kabupaten Banjar sering menimbulkan pendapat miring. Masyarakat berpendapat, salah satu penyebab banjir ini tidak lain akibat pertambangan batubara di daerah hulu seperti di wilayah Sungai Pinang yang tidak memperhatikan reklamasi atau pemulihan pasca tambang. Selain itu, masih terjadinya penebangan pohon di wilayah hutan.
“Bagaimana banjir bisa berhenti, kalau pengusaha-pengusaha tambang batubara tidak melakukan reklamasi setelah melakukan penambangan. Andaikan mereka melakukan reklamasi, setidaknya air hujan bisa meresap dan mengurangi volume air yang turun ke Sungai Rima Kiwa,” demikian kata satu warga Martapura, Iwan.
Satu-satunya harapan, menurut dia, banjir hanya bisa diatasi melalui program pemerintah, semisal membangun waduk untuk membelah saluran air dari Sungai Riam Kiwa. “Kapan itu bisa terealisasi, kita hanya bisa menunggu,” pungkasnya.(*)






